Seminggu semedi di Bali

Apa yang terjadi ketika seorang social media junkie harus lepas dari koneksi internet selama seminggu?

Gak boleh ngomong selama 7 hari okelah. Gak boleh nulis, gak boleh baca dan gak boleh kontak visual selama 7 hari? Itu juga oke. Tapi gimana kalo mesti gak boleh pegang handphone 7 hari? Naini..

Sesuai dengan judulnya, saya mau cerita pengalaman saya semedi di Bali. No, it’s not just another term buat istilah solo traveling (walopun emang saya solo traveling sih) tapi saya emang literally semedi. Duduk diem bersila kayak yang dilakukan biksu-biksu gitu deh.

Semuanya berawal sejak saya mengundurkan diri dari tempat bekerja saya, sebuah digital agency yang berlokasi di Jakarta Selatan. Waktu itu saya mikir, saya sudah kerja hampir 5 tahun gak berhenti. Iya sih saya rajin cuti dan jalan-jalan, but come on. Tau sendiri kebijakan cuti di Indonesia kan gak manusiawi. Cuti 3 hari, pergi 5 hari, holiday bluesnya sebulan. Dan gak sempet juga buat ngerasain holiday blues karena udah keburu ditunggu deadline berikutnya. Total cuti di Indonesia pun hanya 12 hari. Rada masih bikin stress sih buat itungan jumlah hari kerja di Indonesia. But hey, life could be worse right? Tapi sebelum menjadi lebih buruk, saya memutuskan untuk mengambil jeda libur sebulan sebelum masuk ke kantor baru. So here I go.

Berdasarkan saran teman, saya mengikuti Tapa Brata 1 dari Bali Usada. Lokasinya di Forest Island, Bedugul, Bali. Konon katanya dingin banget. Gak cukup hanya berbekal jaket tebal dan selimut, saya pun sampe bawa sarung Flores yang saya beli di Waerebo untuk menjamin kehangatan saya di sana. Dan betapa bersyukurnya saya dengan keputusan saya tersebut. Karena selain sarung itu sangat menghangatkan, banyak mengundang decak kagum dari peserta meditasi lainnya yang rata-rata bule.

Tapa Brata 1 menerapkan Vipassana, salah satu teknik meditasi tertua dari India yang mengajak kita untuk mengenali bagian-bagian tubuh kita sendiri. Kira-kira begini kutipannya:

Vipassana is a way of self-transformation through self-observation. It focuses on the deep interconnection between mind and body, which can be experienced directly by disciplined attention to the physical sensations that form the life of the body, and that continuously interconnect and condition the life of the mind. It is this observation-based, self-exploratory journey to the common root of mind and body that dissolves mental impurity, resulting in a balanced mind full of love and compassion.

(diambil dari https://www.dhamma.org/en/about/vipassana)

Selama praktek menjalankan Vipassana itu, para peserta diminta untuk menjalankan Noble Silence. Praktek Noble Silence ini berarti peserta tidak boleh berbicara, tidak boleh membaca, tidak boleh menulis dan menghindari kontak visual non verbal. Jadi kayak papasan sama orang kan suka reflek saya ngangguk sambil senyum. Nah ini gak boleh.  Dan…ini juaranya, gak boleh pegang handphone. Maksudnya gak lain gak bukan supaya pikiran harmonis kita terjaga. Makes sense sih, gimana mau meditasi dengan tenang kalo sekali-kali cek Facebook atau Path?

Pas malem pertama asli rasanya nervous luar biasa. Roommate saya cewek Perancis cantik banget umur 19 tahun namanya Alissa ternyata punya kekhawatiran yang sama. Tapi kita berdua sama-sama mikir,”Ya udah sih, jalanin aja,”

Melalui videonya pak Merta juga kasih tau kalo kita rasanya pengen kabur di hari ke 2 atau ke 3 dan itu wajar banget. Ketika kita mulai mikir bahwa,”Ngapain ya gw di sini? What the hell am I  doing here? Mendingan ke pantai liburan minum es kepala yang pake payung kecil,” tapi bersabar deh, kata pak Merta. Itu emang bagian dari prosesnya. Ikutin aja prosesnya dengan sabar.

So I did.

3 hari pertama Vipassana kami diajari berkonsentrasi dengan memerhatikan nafas masuk dan nafas keluar. Nafasnya juga jangan yang effort banget, nafas biasa aja kayak sehari-hari. Perhatikan bahwa nafas yang masuk adalah dingin dan nafas yang keluar itu panas. Perhatikan karakternya. Perhatikan perubahannya. Karena perubahan itulah yang namanya Anicca. Semua itu sementara.

Di sini saya termenung lama. Sedih itu sementara. Susah itu sementara. Happy juga sementara. Sejahtera juga sementara. Jadi…gak ada yang abadi. Let go. Ikhlasin aja.

Jadi saya belajar buat ikhlas…

Amazing gimana dari hal sekecil ngatur nafas efeknya bisa luar biasa. Dan masuk akal.

Tapi saya gak ngerasain tuh, 3 hari pertama pengen kabur. Mungkin karena saya niatnya ke sana mau istirahat dari derasnya arus informasi internet (sedap), I was very happy being far from my cellphone and really enjoying my stay. Pak Merta memang menyarankan kami menyadari semua yang kami lakukan di sana. Langkah kiri, langkah kanan, makan di meja, suara jangkrik, suara angin, daun yang bergoyang tertiup angin, angin lembut, mengunyah nasi, minum air teh…semuanya. Biasa kan kalo kita lagi duduk bengong sendirian trus mikir ,’Eh abis ini gw mau beli sepatu yang kemaren ah. Etapi beli gak ya, warnanya sebenernya kurang sreg sih. Pengennya hitam. Tapi hitam udah banyak banget koleksi sepatu gw…’ and so on, and so on, and so on.

Jangan.

Be mindfull. Sadar.

Dan saya pun sangat menikmati keheningan saya. Ketika harus diam, saya terhindar dari kebiasaan harus basa-basi. Atau harus tunggu-tungguan misalnya. Atau harus mendengarkan cerita orang. Don’t get me wrong, saya bukannya mahluk anti sosial atau gimana. Tapi sesekali menjadi individualis…kok enak juga? Saya sangat menikmati duduk makan sendirian di meja taman sambil memandangi pohon-pohon dan mendengarkan hewan-hewan hutan. Pohon kelapa yang selama ini saya lewatkan bila sedang jalan-jalan ke pantai kali ini saya perhatikan lekat-lekat. Angin apa yang bisa menggerakkan daunnya dan berapa tupai yang lompat ke dahannya setiap siang.

And it was amazing.

Ternyata banyak hal yang luput dari perhatian saya selama ini. Simply karena kita anaknya take it for granted aja gitu ya. Damai banget rasanya sekarang buat cuma sekedar duduk aja dan memperhatikan dengan seksama apa yang ada di sekitar kita. Gak cuma memperhatikan apa yang ada di sekitar kita, bahkan menjadi bagian di dalamnya. Menjadi bagian apa yang sedang terjadi di situ, saat itu juga. Simply being presence.

img_1273

Bodhi Tree yang distek langsung dari Bodhi Tree nya Budha.

Forest Island sendiri sebenarnya adalah, konon, salah satu tempat terbaik untuk menjalani meditasi dari ratusan tahun yang lalu. Pak Merta Ada, pemilik Bali Usada, sampe punya pohon Bodhi Tree tempat Budha bermeditasi. Jadi katanya saking bagusnya DNA tuh pohon, potongan dahannya ketika dibawa ke Bali ya numbuh aja gitu jadi pohon gede banget. Gedenya ya gede banget. Liat foto di samping ini deh. Itu pohonnya. Pak Merta juga sengaja menambahkan batu-batu sebagai tempat duduk yang bagian pondasinya ditambahi kristal biar lebih mudah terhubung dengan energi bumi.

Oke, inget ketika banyak orang pada pengen pulang pas hari ke 2 atau ke 3? Kalo saya, hal ini terjadi di hari ke 5. Lupa sih, hari ke 5 apa ke 4, tapi di hari ketika kita mulai menjalankan praktek self healing. Mengenali bagian-bagian tubuh kita, samperin satu-satu dan kirim energi positif ke bagian tubuh tersebut. Berguna banget buat oma-oma dan opa-opa pengidap tumor, kanker, diabetes, hipertensi dan lain-lain sebagainya. Berguna jugakah buat saya yang alhamdulillah punya badan sehat walafiat ini?

Berguna juga, buat hal yang saya tidak bayangkan sebelumnya.

Saya diminta mengingat hal-hal apa yang membuat saya sedih, kesal atau marah. Apakah berantem sama orang tua, dikhianati teman, berantem sama mantan (azeg) lalu rasakan, bagian tubuh mana yang berekasi ketika saya mengingat hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut.

Benar juga.

Ketika saya mengingat betapa kesalnya saya dengan orang tua saya, maka bagian dada saya langsung bereaksi. Rasanya sesak dan penuh sekali. Seperti ada beban besar dimasukkan secara paksa dan tidak bisa keluar. Berat.

Beda lagi ketika saya mengingat pengalaman saya ketika di backstab oleh mantan teman sekantor. Tiba-tiba bagian ginjal saya bereaksi seperti ditusuk jarum. Rasa sakitnya tajam dan nyeri.

Di situ saya berpikir, berarti memang benar ya, 70% penyakit memang datangnya dari pikiran. Ketika ada satu hal yang bikin kita kesel, marah, sedih dan khawatir efeknya emang ke badan. Makanya, bahagia pangkal sehat itu emang bener adanya.

Di hari ke 5 itu, kita semua dipanggilin sama pak Merta buat ditanyain satu-satu. Jujur saya deg-degan parah. Takut dimarahin karena rasanya meditasi saya masih bloon banget. Memusatkan pikiran itu susah luar biasa lho. Jadi ketika dipanggil satu-satu saya pikir mau dihukum atau dikasih rapot jelek gitu.

Ternyata saya dipanggil untuk ditanya, ada keluhan kesehatan apa. Jujur saya jawab,”Ya nggak ada sih pak, saya nyampe sini aja udah bahagia karena saya emang mau liburan dari arus informasi.”

Pak Merta terlihat mencatat sesuatu lalu ketika mendengar jawaban saya akhirnya berhenti,”Jadi gak ada yang mau ditanyain ya?”

“Eh ada sih,” saya cengengesan ,”Kira-kira bisa nanya jodoh gak ya?”

“Lho nanti saya ajarkan tuh, teknik meditasi Cinta Kasih pas hari terakhir. Dengan begitu nanti kamu bisa belajar untuk lebih memancarkan cinta kasih,”

Ihiy.

Hari terakhir di sana, saya diajarkan teknik meditasi Cinta Kasih. Sesuai namanya, meditasi ini mengirimkan cinta kasih ke seluruh kehidupan yang ada di muka bumi. Jadi dalam meditasi ini, saya mesti mengirimkan cinta kasih ke diri saya sendiri, orang tua, teman, orang-orang netral (Ini maksudnya orang-orang yang kamu gak punya feeling, jadi dibilang suka juga nggak, dibilang gak suka ya gak juga. Kayak supir Uber, Gojek, tukang teh botol) dan terakhir, orang yang saya gak suka. Keren ya? Kebayang gak mesti ngirimin cinta kasih ke musuh kita? Berat-berat sedap gitu rasanya. Antara mau kirim tapi kok gak rela, tapi kalo gak kirim kok rasanya gak sesuai prosedur. Haha. Tapi ya udah deh, cobain aja.

Terakhir, kita mesti kirim cinta kasih ke seluruh dunia. Mulai dari pengungsi Syria, janda-janda miskin, penghuni panti jompo, semua yang ingin kamu kirimkan cinta kasih aja.

Oh, that makes sense, pikir saya. Karena ketika saya memancarkan energi cinta kasih, orang-orang di sekitar saya akan menangkapnya, ya kan? Kalau memang cocok, ya siapa tau…*kedip kedip manja.

img_1362

Arah jarum jam dari kiri: Kamar tempat menginap yang bentuknya lumbung, joglo meditasi, bangku warteg dan sebagian peserta Tapa Brata 1 makan siang bareng sebelum pulang.

img_1363

Arah jarum jam: Suasana meditasi dalam joglo meditasi, joglo meditasi tampak depan, Bodhi Tree, saya berfoto bersama pak Merta Ada.

Tapa Brata 1: English Version

Tapa Brata 1 yang saya ikuti adalah Tapa Brata 1 English Version. Emang dibikin buat orang-orang bule, tapi bukan gak mungkin yang Indonesia juga ikutan. Saya sendiri sebenernya gak sengaja juga mau ikutan Tapa Brata 1 English Version, bener-bener karena kebetulan tanggalnya pas aja. Walhasil yang ikutan emang kebanyakan bule. Bulenya macem-macem, kebanyakan emang udah berumur. Dan asiknya ikutan meditasi sama bule, mereka lebih commit sama Noble Silence. Beda sama sebuah rombongan ibu-ibu dari Jakarta yang, katanya sih, begitu selesai meditasi malam langsung pada ngerumpi di WC. Hehe.

Tapa Brata yang Indonesian Version juga ada. Biasanya dilaksanakan di rumah masa kecil pak Merta Ada di Baturiti Center. Letaknya gak jauh dari Forest Island sekitar 2-3 km. Bali Usada sendiri gak selalu melaksanakan Tapa Brata di Bali, ada juga di Jakarta (biasanya di Cisarua) lalu di banyak tempat lainnya. Liat jadwalnya aja di http://www.baliusada.com/

Jangan takut juga gak ngerti sama materi yang dibawakan karena Pak Merta Ada juga kalo ngomong bahasa Inggris  gak jago-jago amat. Model yang kalo ngomong rasanya pengen benerin grammarnya gitu. Tapi setiap dia ngomong dan berbagi cerita di balik meditasi dengan bahasa Inggrisnya yang bletak bletuk itu, (“Don’t go very fast, because you walk slowly-slowly..”) somehow terasa aja kalo orang ini genuine banget. Selera humornya juga asik, jadi selama menjalani Vipassana rasanya gak tegang.

Dan kalo pak Merta Ada masuk ruangan rasanya beda aja gitu. Emang kayaknya aura orang yang udah lama meditsi emang beda ya, kayak instruktur kami selama meditasi di sana yang bernama Michael Schueber.

img_0865

Michael Schueber instruktur meditasi kami. Mirip Steve Jobs ya?

Opa-opa ini adalah mantan insinyur asli Jerman yang udah menjalani meditasi selama lebih dari 30 tahun di…Nepal. Iya, Nepal aja gitu. Saya lupa gimana ceritanya dia bisa ke Bali. Berkaitan dengan teknik meditasi yang dia ikuti selama ini ada yang kurang lalu akhirnya menemukan teknik yang cocok sama dia di Bali…lupa.

Anyway, Michael adalah salah satu dari 30 an asisten pengajar Pak Merta. Umurnya 62 tahun dan sabar banget meladeni pertanyaan peserta. Suaranya juga adem banget. Oh iya, walaupun sedang menjalankan Noble Silence, kami boleh menanyakan segala hal yang berkaitan dengan meditasi mulai dari yang cemen kayak kaki kram kelamaan nekuk, sampe kalo digigit nyamuk mesti ngapain dan ngerasain cakra tubuh. Nanyanya juga ditulis. Jadi sebelum mulai sesi meditasi, Micahel bakal jawabin pertanyaan-pertanyaan yang kami tulis di secarik kertas.

Bangku warteg kesayangan.

img_0864

Bangku warteg aja sih biasa, tapi enak banget duduk di sini.

Ini  spot favorit saya buat makan dan bengong-bengong liat pohon dan tupai. Kalo gak inget ini di Bali, ingin rasanya duduk sambil angkat kaki satu kayak di warteg. Sedep banget kan tuh? Tapi daripada nanti mengundang komentar yang tidak-tidak, ya udahlah ya, makan dengan sopan aja dulu.

Mau dingin mau panas, saya selalu makan di situ. Kecuali kalo hujan (YA IYALAH). Seluruh makanannya vegetarian dan ENAK-ENAK BANGET. Setiap makan saya hampir selalu nambah 2 kali. Tapi kalo malem puasa. Jadi jadwal makannya begini; Subuh makan buah (meditasi pertama dimulai setiap jam 5 pagi), abis itu sarapan nasi dan lauk pauk, trus makan siang dengan nasi dan lauk pauk juga, lalu jam 4 makan cemilan. Semuanya vegetarian. Saya bener-bener gak nyangka ada makanan vegetarian seenak ini. Pas kenyang juga gak terus jadi ngantuk gitu. Enteng aja. Makanannya gak ada yang bisa difoto karena kan handphonenya disimpan oleh panitia.

INSTANT KARMA!

img_1360

Wangi obat nyamuknya enak banget, campuran lemongrass sama kenanga kayaknya.

Saya tuh sebenernya gak ngerti kenapa di bagian depan joglo meditasi dikasih obat-obatan anti nyamuk gini dan bule RAJIN BANGET semprot-semprot dulu sebelum mulai meditasi. Karena Forest Island dingin banget gitu, mana ada nyamuk?

Sampai suatu hari pikiran saya berubah.

Hari-hari pertama meditasi itu kami semua berkumpul di dalam joglo meditasi. Indoor kan ya. Aman gak ada gangguan hujan, panas atau pun serangga. Pas udah masuk hari ke 4 dan 5, kami diperbolehkan untuk bermeditasi di bawah Bodhi Tree. Saya penasaran dong pengen nyoba meditasi di sana. Emang adem banget sih dan sejuk banget. Tapi…ada nyamuknya. Reflek kamu apa kalo ada nyamuk nemplok di badan kamu dan menyedot darah kamu dengan rakusnya? Tepok dong. Ya kan? Begitu juga saya.

Yang saya lupa, selama menjalani Vipassana, kami tidak diperbolehkan untuk membunuh mahluk hidup apa pun. Jadi kalo digigit nyamuk, ya kirim energi cinta kasihmu pada bagian yang digigit dan sadari bahwa rasa gatal yang muncul itu hanya sementara. Nyamuknya ya ditepis aja.

Jreng.

Percaya apa nggak, setelah kejadian saya bunuh nyamuk ketika bermeditasi di bawah Bodhi Tree, setiap saya bermeditasi di dalam ruangan, selalu ada aja serangga yang nyamperin saya. Right after saya bunuh nyamuk di bawah Bodhi Tree abis itu langsung ada nyamuk nyamperin. Kali ini saya gak bunuh. Saya diemin aja wlaopun rasanya gatel banget. Lalu ditempelin lalat. Semut ngerambat di kaki, sampe micro bug entah apa yang tau-tau bikin muka saya gatal tanpa sebab.

Dan ini semua tak pernah terjadi selama saya meditasi di dalam ruangan selama 3 hari pertama. Gilak ya. Instant Karma.

Jadi ya gitu deh…

Cerita perjalanan meditasi saya. Life changing experience banget, apalagi buat mantan pekerja digital agency yang tiap hari kebanyakan update. Konon banyak orang ambil trip ini setahun sekali buat ‘rawat inap’.

Begitu kelar emang antara senang dan sedih sih. Abisnya gak rela aja kalo pikiran jernih ini lalu diganggu sama berisiknya dunia nyata. Tapi ada satu kalimat Michael yang bikin saya jadi yakin,” Justru sekarang harus lebih berani karena kalian sekarang punya tool box buat menghadapi hal-hal yang merusak pikiran harmonis kalian,” lalu dia melanjutkan,”Ya tapi kalo terus tool boxnya rusak, kalian selalu boleh untuk kembali ke sini dan mari kita sama-sama benerin tool box nya,”

Adem banget dengernya.

Yang jelas begitu selesai memang baiknya jangan langsung ke tempat rame. Nyepi-nyepi aja dulu sehari dua hari. Karena kepala literally pusing denger suara berisik di satu dua hari pertama. Perut juga agak kaget ketemu daging lagi. Gak tau kaget gak tau kolesterol deh. Haha.

Processed with Snapseed.

Bebek Murni’s Warung : daging pertama yang masuk tubuh saya setelah Vipassana. Walhasil abis itu kepala pusing 2 hari 2 malam.

Trus jangan takut juga abis trip ini gak bisa lagi mendengarkan suara pak Merta Ada memimpin meditasi. Beliau siaran di Mixlr, sebuah aplikasi social audio live. Download aplikasinya, lalu cari Bali Usada. Setiap malam dia broadcast jam 22 WITA (berarti 21 WIB) dan bahan siaran meditasinya selalu berbeda-beda. Hebat ya? Kadang yang siaran gak cuma pak Merta, tapi juga asisten-asistennya. Kalo yang english version cuma seminggu sekali, hari Sabtu atau Minggu gitu jam 5 WITA. Sebenernya banyak juga yang belom pernah ikut meditasinya pak Merta bisa ikutan juga di sini. Terbuka buat semua orang kok. Karena Pak Merta visinya memang ingin mengajarkan meditasi ke sebanyak mungkin orang. Waktu di Forest Island para peserta pun diminta untuk memberikan donasi yang akan disalurkan selain untuk running Bali Usada, juga buat membiayai orang yang ingin belajar meditasi tapi gak mampu.

Abis ini, saya lanjutin cerita solo traveling saya di Bali ya. Berikut sensasi-sensasi yang saya dapatkan setelah selesai meditasi dan kembali ke dunia nyata. #asedap

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard

2 thoughts on “Seminggu semedi di Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s